• Ruang Perpustakaan
    Ruang Perpustakaan
  • Praktik Lab Komputer
    Praktik Lab Komputer
  • Praktik Lab Kimia
    Praktik Lab Kimia
  • Pembelajaran di Luar Kelas
    Pembelajaran di Luar Kelas
  • Pembelajaran di dalam Kelas
    Pembelajaran di dalam Kelas
  • Lokasi Ruang kelas
    Lokasi Ruang kelas
  • Kegiatan di Mesjid
    Kegiatan di Mesjid
  • Prasasti YPmhb
    Prasasti YPmhb
  • Masjid Sekolah
    Masjid Sekolah
  • Halaman Sekolah
    Halaman Sekolah
  • Pembelajaran di Lab Fisika
    Pembelajaran di Lab Fisika
  • Team Tari SMAN 2 Plus Sipirok
    Team Tari SMAN 2 Plus Sipirok
  • SMAN 2 Plus Sipirok
    SMAN 2 Plus Sipirok
  • Pelantikan siswa Baru
    Pelantikan siswa Baru
  • OSIS
    OSIS

Home Info Guru dan Staf Pengajar Artikel

PENDIDIKAN  SEBAGAI  “SAFETY VALVE”

Oleh: Akhiruddin Harahap S.Sos, M.Pd

 Dalam sebuah iklan disebutkan, berani jujur itu hebat. Kalau demikian adanya, kita harus jujur  melihat, mengamati, menilai bahkan melahirkan sebuah asbtraksi bahwa kondisi masyarakat kita saat ini, khususnya para generasi muda kita cukup mengkhawatirkan. Dengan berani dan sadar kita akui bahwa para generasi muda kita telah mengalami degradasi moral dan etika serta memudarnya nilai karakter bangsa yang idealnya menjadi bagian dari budaya bangsa kita. Namun disamping itu, kita juga harus berani dan solutif terhadap persoalan generasi muda kita sehingga kita benar benar menjadi masyarakat yang hebat.


 Hari ini kita dipertontonkan dengan fenomena degradasi moral dan memudarnya nilai karakater bangsa. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar secara umum telah terjadi penurunan nilai moralitas generasi muda kita, ini ditandai dengan menurunnya adab dan etika terhadap orang tua, guru atau orang yang seharusnya pantas untuk dihormati. Gaya berpakaian yang terbuka, pacaran, tawuran, tidak jujur, perilaku hedonis adalah sebahagian dari perilaku yang tak terkontrol dari generasi muda kita. Pintar tapi tak punya etika, mungkin itu sebutan yang terkadang terpikirkan manakala berhadapan dan melihat kondisi yang demikian. Atau yang lebih ironi, sudah minim intelektual juga miskin emosional serta spiritual keagamaannya.

Dalam realitasnya, kita tidak hanya sebagai penonton, tetapi terkadang kita juga sebagai pemain. Layaknya panggung sandiwara ada sejumlah peran yang dimainkan sesuai tuntutan skenario dari sang sutradara. Ada panggung depan (front stage), ada panggung belakang (back stage). Di depan menunjukkan karakter yang ideal, namun di belakang bisa menjadi pemain yang antagonis dari peran yang seharusnya. Ini jelas ironi, apalagi menjadi contoh dan stimulan bagi kaum muda.

Dalam persfektif sosiologi, bahwa sebuah permasalahan sosial tidaklah berdiri sendiri, tetapi sesuatu yang bersifat kompleks dan sistemik. Artinya terdapat hubungan saling terkait antara kompenen yang satu dengan komponen lainnya dan masing-masing komponen memiliki peran dan fungsi serta sumbangsih yang timbal balik terhadap lahirnya sebuah permasalahan sosial. Ini artinya bahwa persoalan degradasi moral, etika dan memudarnya  nilai-nilai karakter bangsa terhadap generasi bangsa kita bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, atau disebabkan oleh mereka sendiri. Tetapi orangtua, sekolah, pemerintah dan komponen masyarakat lainnya juga punya andil dan sumbangsih terhadap kondisi ini. Alhasil kita berada dalam sebuah kondisi regress, dimana nilai-nilai sub-kultur menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita. Melanggar nilai menjadi sesuatu yang lumrah, pintar intelektual tak berarti pintar secara emosional dan spiritual. Banyak anak kita yang cerdas secara intelektual tetapi miskin emosional apalagi spiritual. Ini setali tiga uang dengan masyarakat kita secara umum.

Meninjam teori Lewis Coser yakni Safety Valve atau Katup Penyelamat yaitu satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari ancaman  konflik. Konflik dalam hal ini dianalogikan dengan permasalahan sosial, khususnya degradasi moral dan memudarnya nilai karakter bangsa. Dalam konteks ini katup penyelamat itu sendiri bernama Pendidikan. Pendidikan menjadi modal penting dalam mencari jalan keluar dan mengakomodir persoalan ini.  Pendidikan seperti disebutkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Tanggung jawab pendidikan tentunya tidak hanya dari sekolah, tetapi juga dari seluruh stakeholder pendidikan, termasuk keluarga dan masyarakat. Harus ada upaya yang sistematis dan saling terkait antar stakeholder pendidikan. Pada akhirnya pendidikan menjadi sesuatu yang urgen dan menjadi jalan keluar terhadap setiap persoalan bangsa kita dalam hal apa pun. Artinya pendidikan menjadi satu keharusan. Pendidikan tidak hanya melahirkan intelektual yang tinggi tetapi juga harus mampu membangun keseimbangan dengan unsur lain yakni emosional dan spiritual. Pendidikan yang mampu melahirkan generasi muda yang memiliki inteklektual yang cerdas, akhlak yang baik, etika berlandaskan nilai agama serta taat pada nilai dan norma yang berlaku. Tetapi, lagi lagi ini akan terjadi manakala sosialisasi, internalisasi nilai dan pewarisan budaya yang baik dari seluruh komponen masyarakat terhadap generasi muda kita. Artinya, baik dan buruknya generasi penerus kita tergantung dari para pendahulunya juga.

Sepuluh atau lima belas tahun kedepan generasi muda yang sudah mendapat stimulan dari pendahulunya akan menggantikan pemimpin pemimpin yang ada saat ini. Jika tidak ada penguatan kualitas karakter bangs, maka siap-siaplah menunggu dampak yang lebih buruk. Tentunya itu tidak kita inginkan. (Penulis : Guru SMA N 2 Plus Sipirok, Tapanuli Selatan)

 

 

  

Search

User Menu

Chat with Me

My YM Status

Chat ini aktif di browser Google Chrome atau Anda instal terlebih dahulu Adobe Flash Player.

Video Feature

Gallery Foto Terbaru

  • Ambalan_23
  • Ambalan_23
  • Ambalan_23
  • Ambalan_23
  • Ambalan_23
  • Ambalan_23